9. Sa'ad bin Abi Waqqas
Sa`ad bin Abī Waqqās (abjad Arab: سعد بن أبي وقاص)
merupakan salah seorang yang awal masuk Islam dan salah satu sahabat
penting Nabi Muhammad SAW.
Keluarga
Ia berasal dari klan Bani Zuhrah dari suku
Quraisy[1], dan paman Nabi Muhammad dari garis pihak ibu. Abdurrahman
bin Auf, sahabat nabi yang lain, merupakan sepupu.[2]
Saad lahir dan besar di kota [mekkah]. Ia dikenal
sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya
tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek.
Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda. Ia berasal dari
keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua
orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci
pada agamanya dan cara hidup yang dianut masyarakatnya. Ia membenci
praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.
Awal masuk Islam
Suatu hari dalam hidupnya, ia didatangi sosok Abu
Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Sa'ad menemui
Nabi Muhammad di sebuah perbukitan dekat Makkah. Pertemuan itu
mengesankan Sa'ad yang saat itu baru berusia 20 tahun.
Ia pun segera menerima undangan Nabi Muhammad SAW
untuk menjadi salah satu penganut ajaran Islam yang dibawanya. Sa'ad
kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.
Sa'ad sendiri secara tidak langsung memiliki
hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Ibu rasul, Aminah binti
Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Saad yaitu dari Bani Zuhrah.
Karena itu Saad juga sering disebut sebagai Sa'ad of Zuhrah atau Sa'ad
dari Zuhrah, untuk membedakannya dengan Sa'ad-Sa'ad lainnya.
Namun keislaman Saad mendapat tentangan keras
terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan
bunuh diri. Selama beberapa hari, ibu Sa'ad menolak makan dan minum
sehingga kurus dan lemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, namun
ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Sa'ad kembali ke
agama lamanya. Namun Sa'ad berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan
luar biasa pada sang ibu, namun kecintaannya pada Allah SWT dan
Rasulullah SAW jauh lebih besar lagi.
Mendengar kekerasan hati Sa'ad, sang ibu akhirnya
menyerah dan mau makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan
keteguhan iman Sa'ad bin Abi Waqqas. Di masa-masa awal sejarah Islam,
kaum Muslim mengungsi ke bukit jika hendak menunaikan salat. Kaum
Quraisy selalu mengalangi mereka beribadah.
Saat tengah salat, sekelompok kaum Quraisy
mengganggu dengan saling melemparkan lelucon kasar. Karena kesal dan
tidak tahan, Sa'ad bin Abi Waqqas yang memukul salah satu orang Quraisy
dengan tulang unta sehingga melukainya. Ini menjadi darah pertama yang
tumpah akibat konflik antara umat Islam dengan orang kafir. Konflik yang
kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran
umat Islam.
Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para
sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti
yang difirmankan Allah SWT dalam al-Qur'an Surah Al-Muzzammil ayat 10.
Cukup lama kaum Muslim menahan diri. Baru beberapa dekade kemudian, umat
Islam diperkenankan melakukan perlawanan fisik kepada para orang kafir.
Di barisan pejuang Islam, nama Sa'ad bin Abi Waqqas menjadi salah satu
tonggak utamanya.
Ia terlibat dalam Pertempuran Badar bersama
saudaranya yang bernama Umair bin Abi Waqqas yang kemudian syahid
bersama 13 pejuang Muslim lainnya. Pada Pertempuran Uhud, bersama Zaid,
Sa'ad terpilih menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik Islam. Saad
berjuang dengan gigih dalam mempertahankan Rasulullah SAW setelah
beberapa pejuang Muslim meninggalkan posisi mereka. Sa'ad juga menjadi
sahabat dan pejuang Islam pertama yang tertembak panah dalam upaya
mempertahankan Islam.
Sa'ad juga merupakan salah satu sahabat yang
dikarunai kekayaan yang juga banyak digunakannya untuk kepentingan
dakwah. Ia juga dikenal karena keberaniannya dan kedermawanan hatinya.
Sa'ad hidup hingga usianya menjelang delapan puluh tahun. Menjelang
wafatnya, Sa'ad meminta puteranya untuk mengafaninya dengan jubah yang
ia gunakan dalam perang Badar. Kafani aku dengan jubah ini karena aku
ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini,ujarnya.
Memimpin Perang melawan Kekaisaran Persia
Penolakan kaisar Persia membuat air mata Sa'ad
bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan
banyak nyawa kaum Muslim dan non Muslim.
Kepahlawanan Sa'ad bin Abi Waqqas tertulis dengan
tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan melawan tentara Persia di
Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat
Islam.
Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju
Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar,
lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di
Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam
memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para
sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga
bantuan.
Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira.
Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah
12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.
Sebelum memulai peperangan, atas instruksi Umar
bin Khattab yang menjadi khalifah saat itu, Sa'ad mengirim surat kepada
kaisar Persia, Yazdagird dan Rustum, yang isinya undangan untuk masuk
Islam. Delegasi Muslim yang pertama berangkat adalah An-Numan bin
Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan
Yazdagird.
Untuk mengirim surat kepada Rustum, Sa'ad mengirim
delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir. Kepada Rubiy, Rustum menawarkan
segala kemewahan duniawi. Namun ia tidak berpaling dari Islam dan
menyatakan bahwa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik yaitu surga.
Para delegasi Muslim kembali setelah kedua
pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata
Sa'ad bercucuran karena ia terpaksa harus berperang yang berarti
mengorbankan nyawa orang Muslim dan non Muslim.
Setelah itu, untuk beberapa hari ia terbaring
sakit karena tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi.
Sa'ad tahu pasti, bahwa peperangan ini akan menjadi peperangan yang
sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa.
Ketika tengah berpikir, Sa'ad akhirnya tahu bahwa
ia tetap harus berjuang. Karena itu, meskipun terbaring sakit, Sa'ad
segera bangkit dan menghadapi pasukannya. Di depan pasukan Muslim, Saad
mengutip Alquran Surah Al-Anbiya' ayat 105 tentang bumi yang akan
dipusakai oleh orang-orang shaleh seperti yang tertulis dalam kitab
Zabur.
Setelah itu, Sa'ad berganti pakaian kemudian menunaikan salat Dzuhur bersama ya.
Setelah itu dengan membaca takbir, Sa'ad bersama pasukan Muslim memulai
peperangan. Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan
menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Persia.
Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam
sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangi peperangan itu.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sa%27ad_bin_Abi_Waqqas

Tidak ada komentar:
Posting Komentar