4. Abu Hurairah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Ini adalah versi yang telah diperiksa dari halaman initampilkan/sembunyikan detail
Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab:
عبدالرحمن بن صخر الأذدي) (lahir 598 - wafat 678), yang lebih dikenal
dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة), adalah seorang
Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling
banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni.
Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Hurairah
adalah Abdullah bin Amin dan ada pula yang mengatakan nama aslinya ialah
Abdur Rahman bin Shakhr.[1]
Masa muda
Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari
Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil
sudah menjadi yatim. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti
Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya. Nama aslinya
pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil
sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan
memelihara kucing. Diriwayatkan atsar oleh Imam At-Tirmidzi dengan sanad
yang mauquf hingga Abu Hurairah. Abdullaah bin Raafi' berkata, "Aku
bertanya kepada Abu Hurairah, "Mengapa engkau bernama kuniyah Abu
Hurairah?" Ia menjawab, "Apakah yang kau khawatirkan dariku?" Aku
berkata, "Benar, demi Allah, sungguh aku khawatir terhadapmu." Abu
Hurairah berkata, "Aku dahulu bekerja menggembalakan kambing keluargaku
dan di sisiku ada seekor kucing kecil (Hurairah). Lalu ketika malam tiba
aku menaruhnya di sebatang pohon, jika hari telah siang aku pergi ke
pohon itu dan aku bermain-main dengannya, maka aku diberi kuniyah Abu
Hurairah (bapaknya si kucing kecil)." [2]
Menjadi muslim
Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus,
kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi
muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera
menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu
menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah,
Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha
Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi
muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629.
Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk
Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai
dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.
Peran politik
Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah
menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar
bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak.
Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin
Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu di antara mereka.
Periwayat hadits
Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak
meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Di
antara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar,
Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah
berkata: "Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan
sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah".
Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan
Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan
beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian,
Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits
yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah
pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa' Abi Hurairah.
Abu Hurairah sejak kecil tinggal bersama Rasulullah.[3]
Keturunan
Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum
fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang
disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid
Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah
dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi'in terkemuka.
http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hurairah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar