1. Umar bin Khattab
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
'Umar bin al-Khattab
Pemimpin Orang-Orang Beriman
(Amir al-Mu'minin)
Masa kekuasaan 23 Agustus 634 – November 7 644
Nama lengkap 'Umar bin al-Khattab
Gelar al-Faruq ("Pemisah antara yang benar dan batil")
Amir al-Mu`miniin ("Pemimpin Orang-Orang Beriman")
Lahir c.586-590
Mekkah, Jazirah Arab
Meninggal 7 November 644
Madinah, Jazirah Arab
Dimakamkan Sebelah kiri makam Nabi Muhammad, Al-Masjid al-Nabawi, Madinah[1]
Pendahulu Abu Bakar Ash-Shiddiq
Pengganti Utsman bin Affan
Kekuasaan khalifah Umar pada masa puncaknya, 644
Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau
lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581 - November 644) (bahasa
Arab:عمر ابن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W
yang juga adalah khalifah kedua Islam (634-644). Umar juga merupakan
satu di antara empat orang Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah
yang diberi petunjuk (Khulafaur Rasyidin).
Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi,
salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu.
Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya
Hantamah binti Hasyim, dari marga Bani Makhzum.[2] Umar memiliki julukan
yang diberikan oleh Nabi Muhammad yaitu Al-Faruq yang berarti orang
yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Keluarga Umar
tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis,
yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka.
Biografi
Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang
sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi
yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur
putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang
masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Nabi Muhammad, Umar
dikabarkan menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu
sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits "Aku menangis ketika menggali
kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".
Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat,
beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam (Jahiliyyah), Umar
suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh
alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar
(yang memabukkan) secara tegas.
Memeluk Islam
Ketika Nabi Muhammad S.A.W menyebarkan Islam
secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya,
beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa
Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan
Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli
strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap
peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling
banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut
Nabi Muhammad S.A.W.
Pada puncak kebenciannya terhadap ajaran Nabi
Muhammad S.A.W, Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad
S.A.W, namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang
pengikut Nabi Muhammad S.A.W bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian
memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam,
ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W yang ingin dibunuhnya saat
itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan
dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai
saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8, ia
semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya. Ketika melihat
saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta
agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi
terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah
kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal yang selama
ini selalu membelanyani membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena
seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam
menyiksa para pengikut Nabi Muhammad S.A.W kemudian memeluk ajaran yang
sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan
Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para
petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.
Kehidupan di Madinah
Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Nabi Muhammad
S.A.W dan pemeluk Islam lain berhijrah (migrasi) (ke Yatsrib (sekarang
Madinah) . Ia juga terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta
penyerangan ke Syria. Ia dianggap sebagai seorang yang paling disegani
oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang memang
terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang
terdepan yang selalu membela Nabi Muhammad S.A.W dan ajaran Islam pada
setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan
lamanya yang dulu bersama mereka ia ikut menyiksa para pengikutnya Nabi
Muhammad S.A.W

Tidak ada komentar:
Posting Komentar