3 Abu Dzar Al-Ghifari
Jundub bin Junadah bin Sakan (Arab: جُندب بن
جَنادة) atau lebih dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghifari atau Abizar
al-Ghifari adalah sahabat Nabi Muhammad.
Biografi
Abu Dzar berasal dari suku Ghifar (dikenal sebagai
penyamun pada masa sebelum datangnya Islam). Ia memeluk Islam dengan
sukarela, ia salah satu sahabat yang terdahulu dalam memeluk Islam. Ia
mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan
keislamannya.
Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling
Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli
oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia
dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa
orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar. Ia mengikuti hampir
seluruh pertempuran-pertempuran selama Nabi Muhammad hidup.
Orang-orang yang masuk Islam melalui dia, adalah : Ali-al-Ghifari, Anis al-Ghifari, Ramlah al-Ghifariyah.
Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah.
Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok sederhana ini dalam satu
perjalanan pasukan Muslim menuju medan Perang Tabuk melawan kekaisaran
Bizantium. Karena keledainya lemah, ia rela berjalan kaki seraya memikul
bawaannya. Saat itu sedang terjadi puncak musim panas yang sangat
menyayat.
Dia keletihan dan roboh di hadapan Nabi SAW. Namun
Rasulullah heran kantong airnya masih penuh. Setelah ditanya mengapa
dia tidak minum airnya, tokoh yang juga kerap mengkritik penguasa
semena-mena ini mengatakan, "Di perjalanan saya temukan mata air.
Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan
nikmat. Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum
Nabi SAW meminumnya." Dengan rasa haru, Rasulullah berujar, "Engkau
datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal
dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak
akan mengurus pemakamanmu." Abu Dzar Al Ghifary, sahabat setia
Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.
Sebelum Masuk Islam
Tidak diketahui pasti kapan Abizar lahir. Sejarah
hanya mencatat, ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria.
Riwayat hitam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya.
Abizar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga
perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror
untuk mencapai tujuan sebagai profesi keseharian. Itu sebabnya, Abizar
yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai perampok besar yang
sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.
Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati
baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian
menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya: Insyaf dan berhenti dari
aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan
jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya.
Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab
meninggalkan tanah kelahirannya.
Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar,
Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi. Ini merupakan hijrah pertama
Abizar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas, Abizar tak lama tinggal.
Sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner sehingga tak jarang
mendapat tentangan dari masyarakat setempat.
Masuk Islam
Mendengar datangnya agama Islam, Abizar pun
berpikir tentang agama baru ini. Saat itu, ajaran Nabi Muhammad ini
telah mulai mengguncangkan kota Mekkah dan membangkitkan gelombang
kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Abizar yang telah lama merindukan
kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah, dan ingin bertemu dengan
Nabi SAW. Ia pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka'bah.
Sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran
Nabi. Waktu itu masyarakat kota Mekkah dalam suasana saling bermusuhan.
Demikian halnya dengan Ka'bah yang masih dipenuhi
berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy,
sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana
untuk salat.
Seperti yang diharapkan sejak lama, Abizar
berkesempatan bertemu dengan Nabi. Dan pada saat itulah ia memeluk agama
Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan
berani.
Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai
menentang pemujaan berhala. Dia berkata: "Saya sudah terbiasa
bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi
Besar Islam." Sejak saat itu, Abizar membaktikan dirinya kepada agama
Islam.
Kisah masuk Islamnya Abu Dzar
Diceritakan oleh (Abu Jamra): Ibn Abbas r.a
berkata pada kami: Maukah kalian aku ceritakan kisah tentang masuk
Islamnya Abu Dzar? Kami menjawab: "Ya"
Abu Dzar berkata, "Aku adalah seorang pria dari
kabilah Ghifar, Kami mendengar bahwa ada seseorang mengaku nabi di
Mekkah. Aku bilang pada seorang saudaraku,
'Pergilah temui orang itu, bicaralah dengannya
lalu kabarkanlah beritanya padaku'. Dia pergi menjumpainya dan kembali.
Aku bertanya padanya, 'Ada kabar apa yang kau bawa?', Dia berkata,
'Demi Allah, aku melihat seorang pria mengajak
pada hal-hal yang baik dan melarang hal-hal yang buruk', Aku berkata
padanya, 'Kamu tidak memuaskan keingin-tahuanku dengan keterangan yang
hanya sedikit itu' .
Aku mengambil kantung air dan tongkat lalu pergi
menuju Mekkah. Aku tak tahu siapa dan seperti apa nabi itu, dan akupun
tak mau menanyakan hal itu pada siapapun. Aku terus minum air zam-zam
dan terus berdiam diri di sekitar Ka'bah. Lalu Ali lewat didepanku, dia
bertanya, 'Sepertinya anda orang asing disini? 'Aku jawab 'Ya'.
Dia mengajakku kerumahnya, aku lalu mengikutinya. Dia tidak menanyakan apapun padaku, Akupun tidak mengatakan apa-apa padanya.
Besok paginya aku pergi lagi ke Ka'bah untuk
menanyakan perihal nabi itu pada orang-orang disana, tapi tak seorangpun
mengatakan sesuatu tentangnya. Ali kembali lewat dihadapanku dan
bertanya,
'Adakah seseorang yang belum juga menemukan tempat tinggalnya?', Aku bilang,'Tidak'. Dia berkata,
'Kemari mendekatlah padaku'. Lalu dia bertanya,
'Anda punya urusan apa disini? Apa yang membuat anda datang ke kota ini?'. Aku bilang padanya,
'Jika kamu bisa menjaga rahasiaku, maka aku akan mengatakannya ', Dia menjawab,
'Akan aku lakukan'. Aku berkata padanya,
'Kami mendengar bahwa ada seseorang di kota ini
mengaku dirinya sebagai seorang nabi...aku lalu mengutus seorang
saudaraku untuk bicara dengannya dan waktu dia kembali, dia membawa
kabar yang tidak memuaskan. Jadi aku berpikir untuk bertemu dengannya
secara langsung'. Ali berkata,
'Tercapailah sudah tujuanmu, Aku mau menemui dia
sekarang, jadi ikutlah denganku dan kemanapun aku masuk ke suatu tempat,
masuklah setelahku. Jika aku menjumpai seseorang yang mungkin akan
menyusahkanmu, aku akan berdiri didekat tembok berpura-pura memperbaiki
sepatuku (sebagai tanda peringatan) dan anda harus segera pergi'.
Kemudian Ali berjalan dan aku mengikutinya sampai
dia masuk ke suatu tempat dan aku masuk dengannya menemui sang nabi yang
padanya aku berkata,
'Terangkanlah hakekat Islam itu padaku'. Waktu dia menjelaskannya, aku langsung menyatakan masuk Islam seketika itu juga.
Nabi bersabda,'Wahai Abu Dzar, simpanlah
perkataanmu itu sebagai rahasiamu dan pulanglah ke daerah asalmu dan
apabila kamu mendengar kabar tentang kemenangan kami, kembalilah
temuilah kami'. Aku berkata,
'Demi Dia Yang telah mengutus engkau dalam
kebenaran, aku akan mengumumkan ke-Islamanku secara terang-terangan
dihadapan mereka (kaum musyrikin)'. Abu Dzar pergi ke Ka'bah dimana
banyak orang-orang Quraish berkumpul, lalu berseru,
'Hai, Kalian orang-orang Quraish! Aku bersaksi
(Ashadu a lâ ilâha ill-Allah wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa
rasuluhu) Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu hamba
dan rasul Allah!'. (Mendengar hal itu) Orang-orang Quraish itu
berteriak,
'Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)! Mereka bangkit
lalu memukuliku sampai hampir mati. Al Abbas melihatku lalu menabrakkan
badannya ke badanku untuk melindungiku. Lalu dia menghadapi mereka dan
berkata,
'Ada apa dengan kalian ini! Apakah kalian mau
membunuh seorang dari kabilah Ghifar?, padahal selama ini kalian
berdagang dan berkomunikasi dengan dunia luar melewati daerah kekuasaan
mereka?!'. Mereka lalu meninggalkanku...
Besok paginya aku kembali ke Ka'bah dan berseru sama persis seperti yang aku lakukan kemarin, mereka kembali berteriak,
'Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)!'. Lalu aku
dipukuli (sampai hampir mati) sama seperti kemarin, dan kembali Al Abbas
menghampiri diriku dan menabrakkan badannya ke badanku untuk
melindungiku, dan dia berkata pada mereka sama seperti yang dia lakukan
kemarin.
Begitulah kisah tentang masuk Islamnya Abu Dzar r.a (4:725-OB)
Menjadi Sahabat Nabi
Mendapat kepercayaan Nabi SAW, Abizar ditugaskan
mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan
yang dihadapinya, misi Abizar tergolong sukses. Bukan hanya ibu dan
saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil
diislamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang
penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.
Rasulullah sendiri sangat menghargainya. Ketika
dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam "Perang pakaian
compang-camping", dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu.
Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abizar. Sambil memeluknya,
Rasulullah berkata: "Abizar akan tetap sama sepanjang hidupnya." Ucapan
Nabi ternyata benar, Abizar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh.
Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada
masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam
gelimangan harta.
Bagi Abizar, masalah prinsip adalah masalah yang
tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih
mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penafsirannya mengenai "Ayat
Kanz" (tentang pemusatan kekayaan), dalam surat Attaubah, menimbulkan
pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga.
"Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak
dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa
hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu,
kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak
yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah
apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan
hasil yang telah engkau himpun."
Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang
keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan
dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abizar tak mau kompromi
dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah
Muawiyah, saat itu.
Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku
Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran, merupakan kewajiban Muslim
sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang
miskin.
Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abizar mengutip
peristiwa masa Nabi: "Suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan
bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad.
Nabi berkata kepada Abizar, 'Jika aku mempunyai
emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan
memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan
aku bagi-bagikan kepada hamba Allah'."n her
Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa
Semasa hidupnya, Abizar Al Ghifary sangat dikenal
sebagai penyayang kaum dhuafa. Kepedulian terhadap golongan fakir ini
bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abizar. Sudah menjadi
kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah merampok kafilah yang
lewat. Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok
orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa.
Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.
Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum
miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria. Namun di tempat
baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia
malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak
istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara
besar-besaran. Ajaran egaliter Abizar membangkitkan massa melawan
penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abizar
sebagai 'duri dalam daging' bagi penguasa setempat.
Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al
Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi SAW yang tinggal di
serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, "Kalau Anda membangun
istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang
negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda
melakukan 'israf' (pemborosan)." Muawiyah hanya terpesona dan tidak
menjawab peringatan itu.
Muawiyah berusaha keras agar Abizar tidak
meneruskan ajarannya. Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada
prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abizar dan
ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya.
Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau
mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan
Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat
tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah mengadu
kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan kebencian
kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.
Keberanian dan ketegasan sikap Abizar ini
mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin
Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak berlebihan jika
sahabat Ali Ra, pernah berkata: "Saat ini, tidak ada satu orang pun di
dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang
diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang
terkecuali."
Referensi
Summarized Sahih Al Bukhary, Islamic University Al Madinah Al Munawarah
Pranala luar
Pranala Syiah
Abu Dhar al-Ghifari
And Once Again Abu-Dhar by Dr. Ali Shariati
Pranala Sunni
1.2 Masuk Islam
2 Kisah masuk Islamnya Abu Dzar
2.1 Menjadi Sahabat Nabi
3 Referensi
4 Pranala luar
4.1 Pranala Syiah
4.2 Pranala Sunni
Biografi
Abu Dzar berasal dari suku Ghifar (dikenal sebagai
penyamun pada masa sebelum datangnya Islam). Ia memeluk Islam dengan
sukarela, ia salah satu sahabat yang terdahulu dalam memeluk Islam. Ia
mendatangi Nabi Muhammad langsung ke Mekkah untuk menyatakan
keislamannya.
Setelah menyatakan keislamannya, ia berkeliling
Mekkah untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia dipukuli
oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia
dibebaskan dari suku Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa
orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar. Ia mengikuti hampir
seluruh pertempuran-pertempuran selama Nabi Muhammad hidup.
Orang-orang yang masuk Islam melalui dia, adalah : Ali-al-Ghifari, Anis al-Ghifari, Ramlah al-Ghifariyah.
Dia dikenal sangat setia kepada Rasulullah.
Kesetiaan itu misalnya dibuktikan sosok sederhana ini dalam satu
perjalanan pasukan Muslim menuju medan Perang Tabuk melawan kekaisaran
Bizantium. Karena keledainya lemah, ia rela berjalan kaki seraya memikul
bawaannya. Saat itu sedang terjadi puncak musim panas yang sangat
menyayat.
Dia keletihan dan roboh di hadapan Nabi SAW. Namun
Rasulullah heran kantong airnya masih penuh. Setelah ditanya mengapa
dia tidak minum airnya, tokoh yang juga kerap mengkritik penguasa
semena-mena ini mengatakan, "Di perjalanan saya temukan mata air.
Saya minum air itu sedikit dan saya merasakan
nikmat. Setelah itu, saya bersumpah tak akan minum air itu lagi sebelum
Nabi SAW meminumnya." Dengan rasa haru, Rasulullah berujar, "Engkau
datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal
dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak
akan mengurus pemakamanmu." Abu Dzar Al Ghifary, sahabat setia
Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.
Sebelum Masuk Islam
Tidak diketahui pasti kapan Abizar lahir. Sejarah
hanya mencatat, ia lahir dan tinggal dekat jalur kafilah Mekkah, Syria.
Riwayat hitam masa lalu Abizar tak lepas dari keberadaan keluarganya.
Abizar yang dibesarkan di tengah-tengah keluarga
perampok besar Al Ghiffar saat itu, menjadikan aksi kekerasan dan teror
untuk mencapai tujuan sebagai profesi keseharian. Itu sebabnya, Abizar
yang semula bernama Jundab, juga dikenal sebagai perampok besar yang
sering melakukan aksi teror di negeri-negeri di sekitarnya.
Kendati demikian, Jundab pada dasarnya berhati
baik. Kerusakan dan derita korban yang disebabkan oleh aksinya kemudian
menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya: Insyaf dan berhenti dari
aksi jahatnya tersebut. Bahkan tak saja ia menyesali segala perbuatan
jahatnya itu, tapi juga mengajak rekan-rekannya mengikuti jejaknya.
Tindakannya itu menimbulkan amarah besar sukunya, yang memaksa Jundab
meninggalkan tanah kelahirannya.
Bersama ibu dan saudara lelakinya, Anis Al Ghifar,
Abizar hijrah ke Nejed Atas, Arab Saudi. Ini merupakan hijrah pertama
Abizar dalam mencari kebenaran. Di Nejed Atas, Abizar tak lama tinggal.
Sekalipun banyak ide-idenya dianggap revolusioner sehingga tak jarang
mendapat tentangan dari masyarakat setempat.
Masuk Islam
Mendengar datangnya agama Islam, Abizar pun
berpikir tentang agama baru ini. Saat itu, ajaran Nabi Muhammad ini
telah mulai mengguncangkan kota Mekkah dan membangkitkan gelombang
kemarahan di seluruh Jazirah Arab. Abizar yang telah lama merindukan
kebenaran, langsung tertarik kepada Rasulullah, dan ingin bertemu dengan
Nabi SAW. Ia pergi ke Mekkah, dan sekali-sekali mengunjungi Ka'bah.
Sebulan lebih lamanya ia mempelajari dengan seksama perbuatan dan ajaran
Nabi. Waktu itu masyarakat kota Mekkah dalam suasana saling bermusuhan.
Demikian halnya dengan Ka'bah yang masih dipenuhi
berhala dan sering dikunjungi para penyembah berhala dari suku Quraisy,
sehingga menjadi tempat pertemuan yang populer. Nabi juga datang ke sana
untuk salat.
Seperti yang diharapkan sejak lama, Abizar
berkesempatan bertemu dengan Nabi. Dan pada saat itulah ia memeluk agama
Islam, dan kemudian menjadi salah seorang pejuang paling gigih dan
berani.
Bahkan sebelum masuk Islam, ia sudah mulai
menentang pemujaan berhala. Dia berkata: "Saya sudah terbiasa
bersembahyang sejak tiga tahun sebelum mendapat kehormatan melihat Nabi
Besar Islam." Sejak saat itu, Abizar membaktikan dirinya kepada agama
Islam.
Kisah masuk Islamnya Abu Dzar
Diceritakan oleh (Abu Jamra): Ibn Abbas r.a
berkata pada kami: Maukah kalian aku ceritakan kisah tentang masuk
Islamnya Abu Dzar? Kami menjawab: "Ya"
Abu Dzar berkata, "Aku adalah seorang pria dari
kabilah Ghifar, Kami mendengar bahwa ada seseorang mengaku nabi di
Mekkah. Aku bilang pada seorang saudaraku,
'Pergilah temui orang itu, bicaralah dengannya
lalu kabarkanlah beritanya padaku'. Dia pergi menjumpainya dan kembali.
Aku bertanya padanya, 'Ada kabar apa yang kau bawa?', Dia berkata,
'Demi Allah, aku melihat seorang pria mengajak
pada hal-hal yang baik dan melarang hal-hal yang buruk', Aku berkata
padanya, 'Kamu tidak memuaskan keingin-tahuanku dengan keterangan yang
hanya sedikit itu' .
Aku mengambil kantung air dan tongkat lalu pergi
menuju Mekkah. Aku tak tahu siapa dan seperti apa nabi itu, dan akupun
tak mau menanyakan hal itu pada siapapun. Aku terus minum air zam-zam
dan terus berdiam diri di sekitar Ka'bah. Lalu Ali lewat didepanku, dia
bertanya, 'Sepertinya anda orang asing disini? 'Aku jawab 'Ya'.
Dia mengajakku kerumahnya, aku lalu mengikutinya. Dia tidak menanyakan apapun padaku, Akupun tidak mengatakan apa-apa padanya.
Besok paginya aku pergi lagi ke Ka'bah untuk
menanyakan perihal nabi itu pada orang-orang disana, tapi tak seorangpun
mengatakan sesuatu tentangnya. Ali kembali lewat dihadapanku dan
bertanya,
'Adakah seseorang yang belum juga menemukan tempat tinggalnya?', Aku bilang,'Tidak'. Dia berkata,
'Kemari mendekatlah padaku'. Lalu dia bertanya,
'Anda punya urusan apa disini? Apa yang membuat anda datang ke kota ini?'. Aku bilang padanya,
'Jika kamu bisa menjaga rahasiaku, maka aku akan mengatakannya ', Dia menjawab,
'Akan aku lakukan'. Aku berkata padanya,
'Kami mendengar bahwa ada seseorang di kota ini
mengaku dirinya sebagai seorang nabi...aku lalu mengutus seorang
saudaraku untuk bicara dengannya dan waktu dia kembali, dia membawa
kabar yang tidak memuaskan. Jadi aku berpikir untuk bertemu dengannya
secara langsung'. Ali berkata,
'Tercapailah sudah tujuanmu, Aku mau menemui dia
sekarang, jadi ikutlah denganku dan kemanapun aku masuk ke suatu tempat,
masuklah setelahku. Jika aku menjumpai seseorang yang mungkin akan
menyusahkanmu, aku akan berdiri didekat tembok berpura-pura memperbaiki
sepatuku (sebagai tanda peringatan) dan anda harus segera pergi'.
Kemudian Ali berjalan dan aku mengikutinya sampai
dia masuk ke suatu tempat dan aku masuk dengannya menemui sang nabi yang
padanya aku berkata,
'Terangkanlah hakekat Islam itu padaku'. Waktu dia menjelaskannya, aku langsung menyatakan masuk Islam seketika itu juga.
Nabi bersabda,'Wahai Abu Dzar, simpanlah
perkataanmu itu sebagai rahasiamu dan pulanglah ke daerah asalmu dan
apabila kamu mendengar kabar tentang kemenangan kami, kembalilah
temuilah kami'. Aku berkata,
'Demi Dia Yang telah mengutus engkau dalam
kebenaran, aku akan mengumumkan ke-Islamanku secara terang-terangan
dihadapan mereka (kaum musyrikin)'. Abu Dzar pergi ke Ka'bah dimana
banyak orang-orang Quraish berkumpul, lalu berseru,
'Hai, Kalian orang-orang Quraish! Aku bersaksi
(Ashadu a lâ ilâha ill-Allah wa ashadu anna Muhammadan abduhu wa
rasuluhu) Tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad itu hamba
dan rasul Allah!'. (Mendengar hal itu) Orang-orang Quraish itu
berteriak,
'Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)! Mereka bangkit
lalu memukuliku sampai hampir mati. Al Abbas melihatku lalu menabrakkan
badannya ke badanku untuk melindungiku. Lalu dia menghadapi mereka dan
berkata,
'Ada apa dengan kalian ini! Apakah kalian mau
membunuh seorang dari kabilah Ghifar?, padahal selama ini kalian
berdagang dan berkomunikasi dengan dunia luar melewati daerah kekuasaan
mereka?!'. Mereka lalu meninggalkanku...
Besok paginya aku kembali ke Ka'bah dan berseru sama persis seperti yang aku lakukan kemarin, mereka kembali berteriak,
'Tangkap Sâbi itu (Muslim itu)!'. Lalu aku
dipukuli (sampai hampir mati) sama seperti kemarin, dan kembali Al Abbas
menghampiri diriku dan menabrakkan badannya ke badanku untuk
melindungiku, dan dia berkata pada mereka sama seperti yang dia lakukan
kemarin.
Begitulah kisah tentang masuk Islamnya Abu Dzar r.a (4:725-OB)
Menjadi Sahabat Nabi
Mendapat kepercayaan Nabi SAW, Abizar ditugaskan
mengajarkan Islam di kalangan sukunya. Meskipun tak sedikit rintangan
yang dihadapinya, misi Abizar tergolong sukses. Bukan hanya ibu dan
saudara-saudaranya, hampir seluruh sukunya yang suka merampok berhasil
diislamkan. Itu pula yang mencatatkan dirinya sebagai salah seorang
penyiar Islam fase pertama dan terkemuka.
Rasulullah sendiri sangat menghargainya. Ketika
dia meninggalkan Madinah untuk terjun dalam "Perang pakaian
compang-camping", dia diangkat sebagai imam dan administrator kota itu.
Saat akan meninggal dunia, Nabi memanggil Abizar. Sambil memeluknya,
Rasulullah berkata: "Abizar akan tetap sama sepanjang hidupnya." Ucapan
Nabi ternyata benar, Abizar tetap dalam kesederhanaan dan sangat saleh.
Seumur hidupnya ia mencela sikap hidup kaum kapitalis, terutama pada
masa khalifah ketiga, Usman bin Affan, ketika kaum Quraisy hidup dalam
gelimangan harta.
Bagi Abizar, masalah prinsip adalah masalah yang
tak bisa ditawar-tawar. Itu sebabnya, hartawan yang dermawan ini gigih
mempertahankan prinsip egaliter Islam. Penafsirannya mengenai "Ayat
Kanz" (tentang pemusatan kekayaan), dalam surat Attaubah, menimbulkan
pertentangan pada masa pemerintahan Usman, khalifah ketiga.
"Mereka yang suka sekali menumpuk emas dan perak
dan tidak memanfaatkannya di jalan Allah, beritahukan mereka bahwa
hukuman yang sangat mengerikan akan mereka terima. Pada hari itu,
kening, samping dan punggung mereka akan dicap dengan emas dan perak
yang dibakar sampai merah, panasnya sangat tinggi, dan tertulis: Inilah
apa yang telah engkau kumpulkan untuk keuntunganmu. Sekarang rasakan
hasil yang telah engkau himpun."
Atas dasar pemahamannya inilah, Abizar menentang
keras ide menumpuk harta kekayaan dan menganggapnya sebagai bertentangan
dengan semangat Islam. Soal ini, sedikit pun Abizar tak mau kompromi
dengan kapitalisme di kalangan kaum Muslimin di Syria yang diperintah
Muawiyah, saat itu.
Menurutnya, sebagaimana dikutip dalam buku
Tokoh-tokoh Islam yang Diabadikan Alquran, merupakan kewajiban Muslim
sejati menyalurkan kelebihan hartanya kepada saudara-saudaranya yang
miskin.
Untuk memperkuat pendapatnya itu, Abizar mengutip
peristiwa masa Nabi: "Suatu hari, ketika Nabi Besar sedang berjalan
bersama-sama Abizar, terlihat pegunungan Ohad.
Nabi berkata kepada Abizar, 'Jika aku mempunyai
emas seberat pegunungan yang jauh itu, aku tidak perlu melihatnya dan
memilikinya kecuali bila diharuskan membayar utang-utangku. Sisanya akan
aku bagi-bagikan kepada hamba Allah'."n her
Pelayan Dhuafa dan Pelurus Penguasa
Semasa hidupnya, Abizar Al Ghifary sangat dikenal
sebagai penyayang kaum dhuafa. Kepedulian terhadap golongan fakir ini
bahkan menjadi sikap hidup dan kepribadian Abizar. Sudah menjadi
kebiasaan penduduk Ghiffar pada masa jahiliyah merampok kafilah yang
lewat. Abizar sendiri, ketika belum masuk Islam, kerap kali merampok
orang-rang kaya. Namun hasilnya dibagi-bagikan kepada kaum dhuafa.
Kebiasaan itu berhenti begitu menyatakan diri masuk agama terakhir ini.
Prinsip hidup sederhana dan peduli terhadap kaum
miskin itu tetap ia pegang di tempat barunya, di Syria. Namun di tempat
baru ini, ia menyaksikan gubernur Muawiyah hidup bermewah-mewah. Ia
malahan memusatkan kekuasaannya dengan bantuan kelas yang mendapat hak
istimewa, dan dengan itu mereka telah menumpuk harta secara
besar-besaran. Ajaran egaliter Abizar membangkitkan massa melawan
penguasa dan kaum borjuis itu. Keteguhan prinsipnya itu membuat Abizar
sebagai 'duri dalam daging' bagi penguasa setempat.
Ketika Muawiyah membangun istana hijaunya, Al
Khizra, salah satu ahlus shuffah (sahabat Nabi SAW yang tinggal di
serambi Masjid Nabawi) ini mengkritik khalifah, "Kalau Anda membangun
istana ini dari uang negara, berarti Anda telah menyalahgunakan uang
negara. Kalau Anda membangunnya dengan uang Anda sendiri, berarti Anda
melakukan 'israf' (pemborosan)." Muawiyah hanya terpesona dan tidak
menjawab peringatan itu.
Muawiyah berusaha keras agar Abizar tidak
meneruskan ajarannya. Tapi penganjur egaliterisme itu tetap pada
prinsipnya. Muawiyah kemudian mengatur sebuah diskusi antara Abizar dan
ahli-ahli agama. Sayang, pendapat para ahli itu tidak mempengaruhinya.
Muawiyah melarang rakyat berhubungan atau
mendengarkan pengajaran salah satu sahabat yang ikut dalam penaklukan
Mesir, pada masa khalifah Umar bin Khattab ini. Kendati demikian, rakyat
tetap berduyun-duyun meminta nasihatnya. Akhirnya Muawiyah mengadu
kepada khalifah Usman. Ia mengatakan bahwa Abizar mengajarkan kebencian
kelas di Syria, hal yang dianggapnya dapat membawa akibat yang serius.
Keberanian dan ketegasan sikap Abizar ini
mengilhami tokoh-tokoh besar selanjutnya, seperti Hasan Basri, Ahmad bin
Hanbal, Ibnu Taimiyah, dan lainnya. Karena itulah, tak berlebihan jika
sahabat Ali Ra, pernah berkata: "Saat ini, tidak ada satu orang pun di
dunia, kecuali Abuzar, yang tidak takut kepada semburan tuduhan yang
diucapkan oleh penjahat agama, bahkan saya sendiri pun bukan yang
terkecuali."
http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Dzar_Al-Ghifari

Tidak ada komentar:
Posting Komentar