5. Ali bin Abi Thalib
Khalifah Islam Ke-4Ali
Khalifah Ar-Rasyidin
Lahir Ali bin Abi Thalib
599
Mekkah, Jazirah Arab (Sekarang Saudi Arabia)
Meninggal 28 Januari 661
Tempat peristirahatan Najaf, Irak
Dikenal karena Sahabat Nabi Muhammad
Agama Islam
‘Alī bin Abī Thālib (Arab: علي بن أﺑﻲ طالب,
Persia: علی پسر ابو طالب) (lahir sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 –
wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661), adalah salah seorang pemeluk Islam
pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia
adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi'ah
berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih
oleh Rasulullah Muhammad SAW. Uniknya meskipun Sunni tidak mengakui
konsep Imamah mereka setuju memanggil Ali dengan sebutan Imam, sehingga
Ali menjadi satu-satunya Khalifah yang sekaligus juga Imam. Ali adalah
sepupu dari Muhammad, dan setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra, ia
menjadi menantu Muhammad.
Perbedaan pandangan mengenai pribadi Ali bin Abi Thalib
Syi'ah
Bagian dari artikel tentang
Imam Syi'ah
Dua Belas Imam
Ali bin Abi Thalib
Hasan al-Mujtaba
Husain asy-Syahid
Ali Zainal Abidin
Muhammad al-Baqir
Ja'far ash-Shadiq
Musa al-Kadzim
Ali ar-Ridha
Muhammad al-Jawad
Ali al-Hadi
Hasan al-Askari
Muhammad al-Mahdi
Syi'ah berpendapat bahwa Ali adalah khalifah yang
berhak menggantikan Nabi Muhammad, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas
perintah Allah di Ghadir Khum. Syi'ah meninggikan kedudukan Ali atas
Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab.
Syi'ah selalu menambahkan nama Ali bin Abi Thalib
dengan Alayhi Salam (AS) atau semoga Allah melimpahkan keselamatan dan
kesejahteraan.
Ahlussunnah
Ahlussunnah memandang Ali bin Abi thalib sebagai
salah seorang sahabat rasulullah yang terpandang. Hubungan kekerabatan
Ali dan rasulullah sangat dekat sehingga ia merupakan seorang ahlul bait
dari nabi shallallahu'alaihi wa sallam. Ahlussunnah juga mengakui Ali
bin abi thalib sebagai salah seorang khulafaurrasyidin (khalifah yang
mendapat petunjuk).
Sunni menambahkan nama Ali dengan Radhiyallahu
Anhu (RA) atau semoga Allah ridha padanya. Tambahan ini sama sebagaimana
yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.
Sufi
Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan
Karramallahu Wajhah (KW) atau semoga Allah me-mulia-kan wajahnya. Doa
kaum Sufi ini sangat unik, berdasar riwayat bahwa beliau tidak suka
menggunakan wajahnya untuk melihat hal-hal buruk bahkan yang kurang
sopan sekalipun. Dibuktikan dalam sebagian riwayat bahwa beliau tidak
suka memandang ke bawah bila sedang berhubungan intim dengan istri.
Sedangkan riwayat-riwayat lain menyebutkan dalam banyak pertempuran
(duel-tanding), bila pakaian musuh terbuka bagian bawah terkena sobekan
pedang beliau, maka Ali enggan meneruskan duel hingga musuhnya lebih
dulu memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai
Imam dalam ilmu al-hikmah (divine wisdom) dan futuwwah (spiritual
warriorship). Dari beliau bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh)
atau spiritual-brotherhood. Hampir seluruh pendiri tarekat Sufi, adalah
keturunan beliau sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki.
Seperti pada tarekat Qadiriyah dengan pendirinya Syekh Abdul Qadir
Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali melalui anaknya
Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul
Qadir Jilani (karya Syekh Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-kitab
lainnya.
Riwayat Hidup
Kelahiran & Kehidupan Keluarga
Kelahiran
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah
Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun
sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau
600(perkiraan). Muslim Syi'ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam
Ka'bah. Usia Ali terhadap Nabi Muhammad masih diperselisihkan hingga
kini, sebagian riwayat menyebut berbeda 25 tahun, ada yang berbeda 27
tahun, ada yang 30 tahun bahkan 32 tahun.
Beliau bernama asli Haydar bin Abu Thalib, paman
Nabi Muhammad SAW. Haydar yang berarti Singa adalah harapan keluarga Abu
Thalib untuk mempunyai penerus yang dapat menjadi tokoh pemberani dan
disegani di antara kalangan Quraisy Mekkah.
Setelah mengetahui sepupu yang baru lahir diberi
nama Haydar,[butuh rujukan] Nabi SAW memanggil dengan Ali yang berarti
Tinggi(derajat di sisi Allah).
Kehidupan Awal
Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti
Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali,
merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu.
Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi
hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan
faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama
istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat.
Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah
mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil
Ali sudah bersama dengan Muhammad.
Dalam biografi asing (Barat), hubungan Ali kepada
Nabi Muhammad SAW dilukiskan seperti Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya)
kepada Yesus (Nabi Isa). Dalam riwayat-riwayat Syi'ah dan sebagian
riwayat Sunni, hubungan tersebut dilukiskan seperti Nabi Harun kepada
Nabi Musa.
Masa Remaja
Ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu,
riwayat-riwayat lama seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki
pertama yang mempercayai wahyu tersebut atau orang ke 2 yang percaya
setelah Khadijah istri Nabi sendiri. Pada titik ini Ali berusia sekitar
10 tahun.
Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak
belajar langsung dari Nabi SAW karena sebagai anak asuh, berkesempatan
selalu dekat dengan Nabi hal ini berkelanjutan hingga beliau menjadi
menantu Nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi
bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani (spirituality
dalam bahasa Inggris atau kaum Salaf lebih suka menyebut istilah
'Ihsan') atau yang kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf yang
diajarkan Nabi khusus kepada beliau tapi tidak kepada Murid-murid atau
Sahabat-sahabat yang lain.
Karena bila ilmu Syari'ah atau hukum-hukum agama
Islam baik yang mengatur ibadah maupun kemasyarakatan semua yang
diterima Nabi harus disampaikan dan diajarkan kepada umatnya, sementara
masalah ruhani hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu dengan
kapasitas masing-masing.
Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua
aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior) atau syariah dan bathin
(interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang
sangat cerdas, berani dan bijak.
Kehidupan di Mekkah sampai Hijrah ke Madinah
Ali bersedia tidur di kamar Nabi untuk mengelabui
orang-orang Quraisy yang akan menggagalkan hijrah Nabi. Beliau tidur
menampakkan kesan Nabi yang tidur sehingga masuk waktu menjelang pagi
mereka mengetahui Ali yang tidur, sudah tertinggal satu malam perjalanan
oleh Nabi yang telah meloloskan diri ke Madinah bersama Abu Bakar.
Kehidupan di Madinah
Perkawinan
Setelah masa hijrah dan tinggal di Madinah, Ali
dinikahkan Nabi dengan putri kesayangannya Fatimah az-Zahra. Nabi
menimbang Ali yang paling tepat dalam banyak hal seperti Nasab keluarga
yang se-rumpun (Bani Hasyim), yang paling dulu mempercayai ke-nabi-an
Muhammad (setelah Khadijah), yang selalu belajar di bawah Nabi dan
banyak hal lain.
Julukan
Ketika Muhammad mencari Ali menantunya, ternyata
Ali sedang tidur. Bagian atas pakaiannya tersingkap dan debu mengotori
punggungnya. Melihat itu Muhammad pun lalu duduk dan membersihkan
punggung Ali sambil berkata, "Duduklah wahai Abu Turab, duduklah." Turab
yang berarti debu atau tanah dalam bahasa Arab. Julukan tersebut adalah
julukan yang paling disukai oleh Ali.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ali_bin_Abi_Thalib

Tidak ada komentar:
Posting Komentar